Saat melewati rumah tua itu hatiku Ku selalu
berdebar-debar. Kata orang-orang rumah itu berhantu. Akupun melirik bangunan
rumah tua itu sambil mempercepat langkah kakiku. Dinding dan kayu-kayu penyangga
banyak yang keropos, dan pekarangan rumah terkesan kotor dan tak terawat. Banyak
orang yang mengatakan kalau mereka sering melihat sesosok bayangan dari dalam
rumah itu. Ada yang mengatakan, penghuni rumah ini adalah monster yang
menakutkan. Ada pula yang bercerita padaku, bahwa rumah itu terdengar rintihan
seorang gadis. Namun, sejauh ini Aku belum pernah melihat satu pun penampakan
dari rumah itu. Sore itu, Aku baru saja pulang dari warung Mbak Jilan Yang
letaknya tidak begitu jauh dari rumah angker itu. Aku baru membeli satu kilo
telur ayam, dan juga satu botol kecap. Berjarak satu meter dari rumah itu,
aku mencium aroma masakan dari arah belakang rumah itu. Seketika, bulu kuduknya
pun meremang. “Duh.. Kok seremm kayak gini sih?” Keluhnku. Kresrek..Kreserrkk.. Bunyi
derap kaki ku yang menginjak tumpukan dedaunan kering di sepanjang jalan,
terdengar cukup ribut. Terbukti dari suasana sunyi kebun jati di sampingnya.
Biasanya, hutan kecil itu tak pernah sepi karena kicauan burung-burung kecil terus
bersahutan. Juga embekan kambing, atau emohan sapi yang di ternak oleh sang
gembala di balik pohon-pohon jati. Ketakutan ku semakin menjadi-jadi saat aku
melihat sekelebat bayangan hitam dari arah rumah tua. Ia merasa seakan ada
seseorang yang sejenak mengamatinya dari dalam sana. “Mending, aku cepet-cepet
pergi dari sini deh” ucapku nyaris berteriak. aku pun memutuskan untuk berlari
dan menjauh dari bangunan yang menyeramkan itu. Esok harinya, aku kembali
melewati rumah tua itu. saat perjalanan pulang dari sekolahku. Tanpa sengaja, aku
mendengar samar-samar beberapa orang sedang bercakap-cakap. Sesekali ku
mendengar ucapan-ucapan kasar dari seseorang yang entah dimana. Mungkin dari
belakang rumah, Pikir ku. Karena penasaran, dengan memanjat aku berniat
menguping pembicaraan orang tersebut. “Heh, lo stress apa?!! Gimana kalau
ketahuan?” Terdengar ucapan dari salah seorang. aku pun terus berdiri di
depan pintu samping rumah, sambil menempelkan daun telingaku kepermukaan pintu.
Tiba-tiba.. suara langkah kaki seseorang terdengar semakin dekat. Sebelum aku
sadar dan pergi, gagang pintu itu telah berputar dengan cepat. Pintupun terbuka
dengan keras dan membentur sisi pohon yang ada tepat di depan pintu itu. akupun
begitu terkejut dan merasa degup jantungnku berdetak berlipat kali lebih
cepat. “Siapa itu?” Teriak seseorang dengan kencang. Rupanya aku
selamat dari orang tak di kenal tadi. aku nyaris tertangkap, jika seandainya aku
tidak lekas mengambil langkah seribu dan bersembunyi di balik salah satu pohon
jati di seberang rumah itu. Namun, orang itu tidak terlambat untuk melihat
sosok bayanganku dari belakang. “Gadis remaja berseragam sekolah SMP. Mungkin
ia kelas 7 atau 8”. Lapor orang yang mengejarku kepada seseorang yang lain.
Mungkin itu adalah atasannya. “Sepertinya tidak masalah!” Sahut sang bos,
acuh tak acuh. Tidak seperti perkiraan mereka. Aku adalah gadis yang
tergolong mungil untuk anak seumurannya. Ini menyebabkan para sosok
mencurigakan menghilangkan kecurigaannya pada ku. Karena sebenarnya, aku berumur
14 tahun atau kelas 8 tepatnya. Di rumah teman ku… “Eh Gi, kamu tau rumah
kosong yang di depan hutan jati di sana?” Tunjuk ku ke arah Barat
Daya. “Emang kenapa?” Algi balas bertanya. “Yang angker dan serem itu
kan?” lanjutnya lagi. “Aku curiga deh!”Jawabku. “Sama siapa?” Algi
menautkan alisnya karena penasaran. “Gini ra..” aku pun menceritakan semua
yang di dengarnya pada Algi, teman baikku. “Hah? Yang bener?” Rara
memekik, tidak percaya. “Ini harus di laporin ke pak kades nih Sal”. aku
langsung membulatkan mata dan memelototkannya ke arah Algi. “eeh.. ya jangan!
Ntar, kalau informasinya salah gimana?” Ucapku dengan logat medok anak bugis. “Ya
udah deh, gimana kalau besok kita kesana lagi.” Usul Algie. “Sekalian,
mungkin kita bisa melacak dan membongkar kedok mereka!”. Mulailah si Algi
beraksi dengan gaya sok detektifnya. Ia memang mengidolakan tokoh detektif
yaitu Detektif Conan, tau kan? Itu lho, yang anak kecil yang pandai memecahkan
suatu misteri, jadi Algi selalu bertingkah seperti layaknya seorang detektif. “Oke”
jawabnya singkat. Krik..kriik..krikk.. Suara jangkrik dan
keheningan malam menyelimuti Rara dan aku di hutan jati. Mereka sengaja janjian
dan keluar rumah tanpa sepengetahuan orang rumah. “Bos, Pulang dulu ya!”
Terdengar satu suara.. dua.. tiga.. eh-empat. Aduh, entahlah ada berapa orang
yang tiba-tiba keluar dari pintu samping rumah angker itu. Sekejap saja, suara
mereka hilang.. lenyap di telan malam. aku melihat ke arah langit. Tidak
ada bintang malam ini. Karena langit mendung dan menutup seluruh bintang. Dan
suasana ini sangat mendukung bagi ku dan Algi. Mereka sama sekali tak terlihat
mencurigakan karena tertutup bayangan awan hitam. Hanya saja, aku jadi tidak
bisa memperkirakan pukul berapa sekarang. “Eh Sal, kita sembunyi di sisi sebelah
situ yuk.” Ajak Algi seraya menunjuk sisi lain dari rumah itu. kami tidak
sadar apa yang ada di belakang kami. Sebuah sungai yang cukup deras aliran
airnya. “Aaah..Tolong aku Sal” Terdengar pekik tertahan dari samping ku. aku
pun dengan cepat memutar arah pandangnya, dan ia melihat algi terpeleset nyaris
terbawa arus sungai. Dengan sigap, ku menangkap tangan Algi dan ia pun
berpegangan pada sebuah batu yang agak menonjol panjang ke
atas. “Greekk..” Algi dan aku segera menjauh dari sungai. Dan kini kami
mendapati sebuah lorong yang agak kecil mengarah landai, miring ke kearah bawah.
“Pasti yang kamu jadikan pegangan tadi itu, kunci jalan rahasia”kata Algie.
“Mungkin” Jawab ku sedikit ragu. Begitu kami sampai di dasar lorong, kami
melihat hal-hal yang yang bersinar terang. kami belum yakin benda apa
itu. “Subhanallah!” aku menahan keterkejutannku. aku menutup mulutku
dengan kedua tanganku agar tidak berteriak. Algi pun melakukan respon yang
nyaris sama. Semua benda berkilauan itu adalah emas dan perhiasan-perhiasan
dalam peti. Ada juga berlian dan permata yang ukurannya cukup besar. Dan semua
harta karun lainnya. “Isal, ini adalah jawaban dari kecurigaanmu kemarin!”kata
Algi. Kemarin, aku bercerita bahwa aku mendengar sekumpulan orang yang
berdebat di balik pintu samping tempat ku menguping kemarin, membicarakan soal
jadwal penjagaan. Bahkan sesekali orang-orang itu menyebut-nyebut kata ‘rahasia
terbesar kita’. Juga rencana pengangkutan ke daerah… kayaknya daerah di Tasikmalaya,
jawa barat. Setelah kami merasa berhasil, kami segera keluar, dan akan
melaporkan kejadian itu esoknya pada pak kades. Karena atas apa yang di dengar ku,
mereka akan mengangkut semua harta karun itu esok lusa. Tepat di ujung
terowongan, Algi di kejutkan olehh tiga orang berbadan tegap yang
menghadang. “Ayo Gi, kenapa berhenti? Di sini pengap nih. Pengen cepet
keluar” Desak ku dari belakang Algi. Namun Algi tetap bergeming dan tak
mengucap sepatah katapun. “Ayo keluar!” Dengan kasar, orang-orang itu
menarik Algi keluar, dan segera mencengkran tangan ku dengan kuat. aku yang tak
mengerti sebelumnya, sempat terkejut dan merontak. Sekarang, kami menjadi
tahanan para pecundang itu. Matahari telah menunjukkan senyumnya dengan sangat
manis. Aku dan Algi pun masih tetap terkurung di salah satu kamar dengan tangan
terikat kebelakang. kami sangat kebingungan. Algi sempat menangis
menyebut-nyebut nama Ibu dan Ayahnya di rumah. Aku juga sesekali menggerutu tak
jelas atau kadang menangis tertahan. Waktu telah berlalu beberapa jam. Kini,
jam dinding rumah ku telah menunjukkan pukul sepuluh siang. Bapakku
mondar-mandir kebingungan karena tidak melihat ku dari tadi pagi dan hingga
kini belum juga terlihat batang hidungnya. Dogr..Dogr..doggrr!!! Suara
pintu dengan di gedor dengan keras. Bapak dan mak ku segera berlari keluar
denggan cemas. “Nak Anisa? Ada apa?” Tanya mak ku
kebingungan. “I..i-tu.. bu. kak Faizal sa..ma k..kak Algi dalam bahaya”
Ucap Anisa, adik Algi yang terbata-bata.“Ayo, ucapkan yang jelas. Ada apa?
Jangan membuat ibu panik seperti ini!”kata mak ku. “Lebih baik, ibu dan
bapak ikut dengan saya.” Mereka pun lari ke arah rumah angker itu.
Ternyata,di sana telah ada pak Kades dan orang tua Algi. Juga para penduduk
desa. Dan dari dalam rumah, polisi-polisi keluar sambil menyeret
orang-orang yang di anggap asing penduduk sini. Tangan mereka telah di
borgol. Tiba-tiba.. “Emaakk..” Tangis ku pun pecah lagi. aku segera
berlari memeluk mak dan bapakku. Pak Kades mengambil alih perhatian.
"Tenang semuanya.. Penjahat-penjahat itu sudah tertangkap. Ternyata,
selama ini rumah ini telah di huni para komplotan-komplotan, yang sebelumnya
telah mengetahui keberadaan harta karun terpendam di rumah ini. Mungkin itu
merupakan harta milik salah satu penduduk sini yang menghuni rumah itu.” Terang
Pak Kades panjang lebar sambil sesekali menunjuk rumah
itu. Esoknya.. “Nisa, bagaimana kau tahu kami ada di dalam sana?”
Tanya ku saat aku bermain ke rumah Algi. “Maaf Sal, sebelumnya aku sudah
membocorkan hal ini ke adikku. A..aa..aku minta maap?” Ucap Rara dengan
perasaan bersalah sambil menyodorkan tangannya meminta maaf. “Nggak apa-apa
kok. Karena pada akhirnya.. itu menjadi bermanfaat. Memang ada baiknya memberi
tahu seseorang untuk mengawasi, siapa tahu kita dalam bahaya.” Dan Sekarang..
Desa tempat Algi dan aku tinggal menjadi aman, tentram, dan damai kembali.
Anak-anak juga sudah tak ada yang takut dengan rumah itu. Dan kini rumah itu
menjadi tempat yang ramai di kunjungi gara-gara peristiwa penemuan hart karun itu.
Ternyata, tak semua rumah tua itu angker ya!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar