Senin, 11 Juni 2012

Suara Di Rumah Angker


Karya : Muh. Faizal Hidayah Putra

Saat melewati rumah tua itu hatiku Ku selalu berdebar-debar. Kata orang-orang rumah itu berhantu. Akupun melirik bangunan rumah tua itu sambil mempercepat langkah kakiku. Dinding dan kayu-kayu penyangga banyak yang keropos, dan pekarangan rumah terkesan kotor dan tak terawat. Banyak orang yang mengatakan kalau mereka sering melihat sesosok bayangan dari dalam rumah itu. Ada yang mengatakan, penghuni rumah ini adalah monster yang menakutkan. Ada pula yang bercerita padaku, bahwa rumah itu terdengar rintihan seorang gadis. Namun, sejauh ini Aku belum pernah melihat satu pun penampakan dari rumah itu. Sore itu, Aku baru saja pulang dari warung Mbak Jilan Yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah angker itu. Aku baru membeli satu kilo telur ayam, dan juga satu botol kecap. Berjarak satu meter dari rumah itu, aku mencium aroma masakan dari arah belakang rumah itu. Seketika, bulu kuduknya pun meremang. “Duh.. Kok seremm kayak gini sih?” Keluhnku. Kresrek..Kreserrkk.. Bunyi derap kaki ku yang menginjak tumpukan dedaunan kering di sepanjang jalan, terdengar cukup ribut. Terbukti dari suasana sunyi kebun jati di sampingnya. Biasanya, hutan kecil itu tak pernah sepi karena kicauan burung-burung kecil terus bersahutan. Juga embekan kambing, atau emohan sapi yang di ternak oleh sang gembala di balik pohon-pohon jati. Ketakutan ku semakin menjadi-jadi saat aku melihat sekelebat bayangan hitam dari arah rumah tua. Ia merasa seakan ada seseorang yang sejenak mengamatinya dari dalam sana. “Mending, aku cepet-cepet pergi dari sini deh” ucapku nyaris berteriak. aku pun memutuskan untuk berlari dan menjauh dari bangunan yang menyeramkan itu. Esok harinya, aku kembali melewati rumah tua itu. saat perjalanan pulang dari sekolahku. Tanpa sengaja, aku mendengar samar-samar beberapa orang sedang bercakap-cakap. Sesekali ku mendengar ucapan-ucapan kasar dari seseorang yang entah dimana. Mungkin dari belakang rumah, Pikir ku. Karena penasaran, dengan memanjat aku berniat menguping pembicaraan orang tersebut. “Heh, lo stress apa?!! Gimana kalau ketahuan?” Terdengar ucapan dari salah seorang. aku pun terus berdiri di depan pintu samping rumah, sambil menempelkan daun telingaku kepermukaan pintu. Tiba-tiba.. suara langkah kaki seseorang terdengar semakin dekat. Sebelum aku sadar dan pergi, gagang pintu itu telah berputar dengan cepat. Pintupun terbuka dengan keras dan membentur sisi pohon yang ada tepat di depan pintu itu. akupun begitu terkejut dan merasa degup jantungnku berdetak berlipat kali lebih cepat. “Siapa itu?” Teriak seseorang dengan kencang. Rupanya aku selamat dari orang tak di kenal tadi. aku nyaris tertangkap, jika seandainya aku tidak lekas mengambil langkah seribu dan bersembunyi di balik salah satu pohon jati di seberang rumah itu. Namun, orang itu tidak terlambat untuk melihat sosok bayanganku dari belakang. “Gadis remaja berseragam sekolah SMP. Mungkin ia kelas 7 atau 8”. Lapor orang yang mengejarku kepada seseorang yang lain. Mungkin itu adalah atasannya. “Sepertinya tidak masalah!” Sahut sang bos, acuh tak acuh. Tidak seperti perkiraan mereka. Aku adalah gadis yang tergolong mungil untuk anak seumurannya. Ini menyebabkan para sosok mencurigakan menghilangkan kecurigaannya pada ku. Karena sebenarnya, aku berumur 14 tahun atau kelas 8 tepatnya. Di rumah teman ku… “Eh Gi, kamu tau rumah kosong yang di depan hutan jati di sana?” Tunjuk ku ke arah Barat Daya. “Emang kenapa?” Algi balas bertanya. “Yang angker dan serem itu kan?” lanjutnya lagi. “Aku curiga deh!”Jawabku. “Sama siapa?” Algi menautkan alisnya karena penasaran. “Gini ra..” aku pun menceritakan semua yang di dengarnya pada Algi, teman baikku. “Hah? Yang bener?” Rara memekik, tidak percaya. “Ini harus di laporin ke pak kades nih Sal”. aku langsung membulatkan mata dan memelototkannya ke arah Algi. “eeh.. ya jangan! Ntar, kalau informasinya salah gimana?” Ucapku dengan logat medok anak bugis. “Ya udah deh, gimana kalau besok kita kesana lagi.” Usul Algie. “Sekalian, mungkin kita bisa melacak dan membongkar kedok mereka!”. Mulailah si Algi beraksi dengan gaya sok detektifnya. Ia memang mengidolakan tokoh detektif yaitu Detektif Conan, tau kan? Itu lho, yang anak kecil yang pandai memecahkan suatu misteri, jadi Algi selalu bertingkah seperti layaknya seorang detektif. “Oke” jawabnya singkat. Krik..kriik..krikk.. Suara jangkrik dan keheningan malam menyelimuti Rara dan aku di hutan jati. Mereka sengaja janjian dan keluar rumah tanpa sepengetahuan orang rumah. “Bos, Pulang dulu ya!” Terdengar satu suara.. dua.. tiga.. eh-empat. Aduh, entahlah ada berapa orang yang tiba-tiba keluar dari pintu samping rumah angker itu. Sekejap saja, suara mereka hilang.. lenyap di telan malam. aku melihat ke arah langit. Tidak ada bintang malam ini. Karena langit mendung dan menutup seluruh bintang. Dan suasana ini sangat mendukung bagi ku dan Algi. Mereka sama sekali tak terlihat mencurigakan karena tertutup bayangan awan hitam. Hanya saja, aku jadi tidak bisa memperkirakan pukul berapa sekarang. “Eh Sal, kita sembunyi di sisi sebelah situ yuk.” Ajak Algi seraya menunjuk sisi lain dari rumah itu. kami tidak sadar apa yang ada di belakang kami. Sebuah sungai yang cukup deras aliran airnya. “Aaah..Tolong aku Sal” Terdengar pekik tertahan dari samping ku. aku pun dengan cepat memutar arah pandangnya, dan ia melihat algi terpeleset nyaris terbawa arus sungai. Dengan sigap, ku menangkap tangan Algi dan ia pun berpegangan pada sebuah batu yang agak menonjol panjang ke atas. “Greekk..” Algi dan aku segera menjauh dari sungai. Dan kini kami mendapati sebuah lorong yang agak kecil mengarah landai, miring ke kearah bawah. “Pasti yang kamu jadikan pegangan tadi itu, kunci jalan rahasia”kata Algie. “Mungkin” Jawab ku sedikit ragu. Begitu kami sampai di dasar lorong, kami melihat hal-hal yang yang bersinar terang. kami belum yakin benda apa itu. “Subhanallah!” aku menahan keterkejutannku. aku menutup mulutku dengan kedua tanganku agar tidak berteriak. Algi pun melakukan respon yang nyaris sama. Semua benda berkilauan itu adalah emas dan perhiasan-perhiasan dalam peti. Ada juga berlian dan permata yang ukurannya cukup besar. Dan semua harta karun lainnya. “Isal, ini adalah jawaban dari kecurigaanmu kemarin!”kata Algi. Kemarin, aku bercerita bahwa aku mendengar sekumpulan orang yang berdebat di balik pintu samping tempat ku menguping kemarin, membicarakan soal jadwal penjagaan. Bahkan sesekali orang-orang itu menyebut-nyebut kata ‘rahasia terbesar kita’. Juga rencana pengangkutan ke daerah… kayaknya daerah di Tasikmalaya, jawa barat. Setelah kami merasa berhasil, kami segera keluar, dan akan melaporkan kejadian itu esoknya pada pak kades. Karena atas apa yang di dengar ku, mereka akan mengangkut semua harta karun itu esok lusa. Tepat di ujung terowongan, Algi di kejutkan olehh tiga orang berbadan tegap yang menghadang. “Ayo Gi, kenapa berhenti? Di sini pengap nih. Pengen cepet keluar” Desak ku dari belakang Algi. Namun Algi tetap bergeming dan tak mengucap sepatah katapun. “Ayo keluar!” Dengan kasar, orang-orang itu menarik Algi keluar, dan segera mencengkran tangan ku dengan kuat. aku yang tak mengerti sebelumnya, sempat terkejut dan merontak. Sekarang, kami menjadi tahanan para pecundang itu. Matahari telah menunjukkan senyumnya dengan sangat manis. Aku dan Algi pun masih tetap terkurung di salah satu kamar dengan tangan terikat kebelakang. kami sangat kebingungan. Algi sempat menangis menyebut-nyebut nama Ibu dan Ayahnya di rumah. Aku juga sesekali menggerutu tak jelas atau kadang menangis tertahan. Waktu telah berlalu beberapa jam. Kini, jam dinding rumah ku telah menunjukkan pukul sepuluh siang. Bapakku mondar-mandir kebingungan karena tidak melihat ku dari tadi pagi dan hingga kini belum juga terlihat batang hidungnya. Dogr..Dogr..doggrr!!! Suara pintu dengan di gedor dengan keras. Bapak dan mak ku segera berlari keluar denggan cemas. “Nak Anisa? Ada apa?” Tanya mak ku kebingungan. “I..i-tu.. bu. kak Faizal sa..ma k..kak Algi dalam bahaya” Ucap Anisa, adik Algi yang terbata-bata.“Ayo, ucapkan yang jelas. Ada apa? Jangan membuat ibu panik seperti ini!”kata mak ku. “Lebih baik, ibu dan bapak ikut dengan saya.” Mereka pun lari ke arah rumah angker itu. Ternyata,di sana telah ada pak Kades dan orang tua Algi. Juga para penduduk desa. Dan dari dalam rumah, polisi-polisi keluar sambil menyeret orang-orang yang di anggap asing penduduk sini. Tangan mereka telah di borgol. Tiba-tiba.. “Emaakk..” Tangis ku pun pecah lagi. aku segera berlari memeluk mak dan bapakku. Pak Kades mengambil alih perhatian. "Tenang semuanya.. Penjahat-penjahat itu sudah tertangkap. Ternyata, selama ini rumah ini telah di huni para komplotan-komplotan, yang sebelumnya telah mengetahui keberadaan harta karun terpendam di rumah ini. Mungkin itu merupakan harta milik salah satu penduduk sini yang menghuni rumah itu.” Terang Pak Kades panjang lebar sambil sesekali menunjuk rumah itu. Esoknya.. “Nisa, bagaimana kau tahu kami ada di dalam sana?” Tanya ku saat aku bermain ke rumah Algi. “Maaf Sal, sebelumnya aku sudah membocorkan hal ini ke adikku. A..aa..aku minta maap?” Ucap Rara dengan perasaan bersalah sambil menyodorkan tangannya meminta maaf. “Nggak apa-apa kok. Karena pada akhirnya.. itu menjadi bermanfaat. Memang ada baiknya memberi tahu seseorang untuk mengawasi, siapa tahu kita dalam bahaya.” Dan Sekarang.. Desa tempat Algi dan aku tinggal menjadi aman, tentram, dan damai kembali. Anak-anak juga sudah tak ada yang takut dengan rumah itu. Dan kini rumah itu menjadi tempat yang ramai di kunjungi gara-gara peristiwa penemuan hart karun itu. Ternyata, tak semua rumah tua itu angker ya!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar